KeluargaMuslimahNews

Ampunan Allah Seluas Bumi dan Langit

Mengetuk Pintu Taubat

Alfurqon.co.id – Bertaubat lah kalian. Hisab dirimu, hitung amalmu dan makin berusaha untuk mengamalkan dan mengerjakan ibadah-ibadah. Begitu para alim ulama menganjurkan pada setiap kajian di majelis-majelis ilmu. Lalu apakah kita melakukan itu. Jawabannya tentu ada yang sudah, dan ada yang setengah-setengah lalu sebagian kita masih enggan.

Allah mengingatkan kita dalam firman-Nya,//“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”// (QS. Al-Hasyr: 18).

Dalam Kajian Ilmu pada Majelis Ahad, Oktober 2017 di Masjid Al Furqon, Jalan R Sukamto, Palembang, *Ustadz Iwan* dari Pesantren Khazanah Kebajikan Palembang, menegaskan, bahwa tiada yang paling penting dalam kehidupan kita ini kecuali setiap saat bermuhasabah diri.

Muhasabah sebagai intropeksi diri, yaitu seseorang bertanya kepada dirinya sendiri tentang perbuatan yang dia lakukan agar jiwa menjadi tenang, dan memastikan secara gamblang apakah perbuatan yang dilakukan dalam kehidupannya sesuai dengan perintah-perintah Allah Ta’ala.

Demikianlah yang dilakukan oleh para sahabat Nabi. Mereka tidak pernah menutup malam harinya kecuali telah melakukan muhasabah. Bahkan seorang Abu Bakar mampu menghisab dirinya sendiri sedemikian rupa.

Menjelang akhir wafatnya, Abu Bakar memanggil putrinya Aisyah radhiyallahu anha. Abu Bakar berkata, //“Sesungguhnya semenjak kita menangani urusan kaum Muslimin, tidak pernah makan (dari dinar dan dirham mereka). Yang kita makan adalah makanan yang keras dan sudah rusak.”// (HR. Ahmad).

Begitu takutnya Abu Bakar, dengan harta yang dia gunakan. Ia takut kalau-kalau ada makanan yang dimakannya dan keluarganya adalah makanan yang tidak halal. Ini merupakan contoh kepada kita agar kita selalu mengikuti tata cara Islam dan sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah SWT. //“ Memang sulit mengerjakan bagaimana hidup sesuai dengan apa yang diperintahkan Allah. Tetapi menjadi mudah bila kita membiasakannya,”//ujar Ustadz Iwan.

*Ingat Kematian*

Seorang jamaah Kajian Ahad Majelis Al Furqon, *Ibu Surya Angraini, SE,* ketika ditanya menjelaskan, bahwa dalam melakukan muhasabah diri atau istilah bertaubat, hendaklah mengetahui bahwa orang yang tenggelam dalam menyibuki keduniaan, bergelut dengan tipu dayanya, dan cenderung memperturutkan nafsunya, pastilah hatinya lalai dari mengingat mati.

Padahal, dengan mengingat kematian itulah sebeneranya seseorang akan ingat Allah dan mulai melakukan muhasabah diri atau bertaubat.

Bila kita merujuk pada firman Allah,:’// Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.//(QS. al-Jumu’ah: 8).

Melihat firman itu, maka setiap diri akan ingat dengan kematian yang gilirannya bisa menghitung diri atau bermuhasabah.

Lalu Surya mengutip sebuah pendapat dari para ulama, bahwa  manusia itu terbagi menjadi tiga golongan. Yaitu: orang yang karam menekuni keduniaan, orang yang dalam taraf permulaan bertaubat, dan ahli ilmu ma’rifat yang telah sampai di ujung hayat.  Orang yang –ingin– bertaubat adalah mereka yang mengingat mati, agar bangkit di hatinya rasa gentar dan takut, sehingga ia dapat melengkapkan taubat secara sempurna.

*Akui Kesalahan*

Apa yang menarik dari firman Allah,”// “Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”// (QS. Az Zumar: 53).

Menurut Seorang Pembina  Adat Marga Lawang Wetan Musibanyuasin, *Wardata Duri, S.Pd menyimak firman Allah di atas, mengemukakan bahwa Allah akan mengapunkan dosa-dosa mereka yang selalu berusaha untuk memohon ampun kepada-Nya. Mereka yang bertaubat akan memperoleh imbalan pahala dan pengampunan atas dosa yang selama ini dilakukan.

Kita juga bisa melihat hadits yang menyebutkan bahwa, //”Sesungguhnya jika engkau menyeru dan mengharap pada-Ku, maka pasti Aku ampuni dosa-dosamu tanpa Aku pedulikan. Wahai anak Adam, seandainya dosamu membumbung tinggi hingga ke langit, tentu akan Aku ampuni, tanpa Aku pedulikan. Wahai anak Adam, seandainya seandainya engkau mendatangi-Ku dengan dosa sepenuh bumi dalam keadaan tidak berbuat syirik sedikit pun pada-Ku, tentu Aku akan mendatangi-Mu dengan ampunan sepenuh bumi pula.”// (HR. Tirmidzi)

Hadits di atas menunjukkan bahwa Allah benar-benar Maha Pengampun. Setiap dosa –baik dosa kecil, dosa besar, dosa syirik bahkan dosa kekufuran- bisa diampuni selama seseorang bertaubat sebelum datangnya kematian walaupun dosa itu sepenuh bumi.

Ibnu Katsir mengatakan, Ayat yang mulia ini berisi seruan kepada setiap orang yang berbuat maksiat baik kekafiran dan lainnya untuk segera bertaubat bermuhasabah diri kepada Allah. Ayat ini mengabarkan bahwa Allah akan mengampuni seluruh dosa bagi siapa yang ingin bertaubat dari dosa-dosa tersebut, walaupun dosa tersebut amat banyak, bagai buih di lautan.

Janganlah seseorang berputus asa dari rahmat Allah walaupun begitu banyak dosa yang ia lakukan karena pintu taubat dan rahmat Allah begitu luas. (*)

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close