KeluargaKhazanahNews

Jangan Bermaksiat Hanya Karena Rizki Tertunda

Tanamkan Kesabaran Di Hatimu

Alfurqon.co.id – “… dan tidak satu pun makhluk bergerak di bumi melainkan dijamin Allah rezekinya” (QS – Hud : 6).

Kalu begitu kenapa harus takut? Bukankah Allah telah memberikan jaminan. Allah SWT   telah sempurna dengan pembagian rezeki itu. Tidak ada satu pun yang akan ditelantarkan-Nya. Sekarang, apakah kita bersedia meluangkan waktu mencarinya atau  kita hanya malas-malasan.  Dan tentu untuk mencari rizki yang halal.

Rizki bukanlah  sekadar uang atau materi. Semua yang terkait  dengan kehidupan adalah rizki. Ilmu, kesehatan, ketenteraman jiwa, pasangan hidup, keturunan, nama baik, persaudaraan, ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, bahkan ada yang lebih tinggi nilainya dibanding uang dan harta.

Memang ada kalanya rizki itu tidak serta-merta dengan harapan dan keinginan manusia. Namun, yang jelas setiap tarikan nafas Allah telah menruh rizki bersamanya. “Allah juga memberikan ujian ketika kita telah berusaha namun rizki belum juga sebagaimana yang kita harapkan,” ujar *Ustadz  H. Reza Esfan*, saat memberikan Kajian di hadapan jamaah Ahad Masjid Al Furqon Palembang.

Tapi ingatlah ada  Rizki  yang kadang tidak kita ketahui datang dengan tiba – tiba. //“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” //(QS. Ath Tholaq: 2-3).

*Rizki Tertunda

Begitu kasih sayang dan ketetapan Allah bagi hamba-Nya menyangkut rizki. Namun, ada kalanya Rizki itu tertunda. Walau tertunda janganlah kiranya diantara kamu bermaksiat kepada Allah, atau dengan menghalalkan segala cara untuk memperolehnya,” kata   *Drs Agus Priyatmono,* Kepala SIT Al Furqon Palembang*, menjelaskan soal penyebab  tertundanya Rizki  seseorang.

Bisa saja  tertundanya Rizki adalah bentuk kasih sayang Allah, atau ujian bentuk cintanya kepada hamba-Nya atau memang ingin memberikan yang terbaik. Semua itu perlu kesabaran. Karena banyak hal yang memungkinkan tertundanya Rizki hamba-Nya itu. Walau demikian, ada banyak orang yang dipusingkan oleh masalah pembagian rezeki ini. Dia merasa rezekinya sedang seret, padahal sudah berusaha maksimal mencarinya.

Bisa jadi,  lepasnya ketawakkalan dari hati.  Kita menggantungkan diri kepada selain Allah. Kita berusaha, namun usaha yang kita lakukan tidak dikaitkan dengan-Nya. Padahal, Allah itu sesuai prasangka hamba-Nya. //“Barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya.”//. (QS. Ath-Thalaq[63]: 3).

Ingat, bahwa Rizki tertunda mungkin saja karena ada dosa. Dosa adalah penghalang datangnya rezeki. Rasulullah SAW bersabda, //“Sesungguhnya seseorang terjauh dari rezeki disebabkan oleh perbuatan dosanya.”//
(HR Ahmad).

Mungkin karena bermaksiat saat mencari nafkah. Apakah pekerjaan kita dihalalkan agama? Kecurangan dalam mencari nafkah, entah itu korupsi, manipulasi, akan membuat rezeki kita tidak berkah. Mungkin uang kita dapat, namun berkah dari uang tersebut telah hilang. Apa ciri rezeki yang tidak berkah? Mudah menguap untuk hal sia-sia dan tidak membawa ketenangan, sulit dipakai untuk taat kepada Allah serta membawa penyakit. Bila kita telanjur melakukannya, segera bertobat dan kembalikan harta tersebut kepada yang berhak menerimanya.

*Ustadz  Ahmad Isrofil Mardlatillah, M.Si, Ketua Departemen Dakwah dan Tarbiya, Majelis Mujahidin*, yang ditanya Assajidin dal;am satu kesempatan di Jockyakarta menjelaskan,  bisa saja karena pekerjaan yang melalaikan kita dari mengingat Allah. Banyak aktivitas kita yang membuat hubungan kita dengan Allah makin menjauh. Kita disibukkan oleh kerja, sehingga lupa shalat, lupa membaca Alquran, lupa mendidik keluarga, lupa menuntut ilmu agama, lupa menjalankan apa yang Allah dan Rasul-Nya perintahkan.

Akibatnya, pekerjaan kita tidak berkah. Jika sudah demikian, jangan heran bila rezeki kita akan tersumbat. Idealnya, semua pekerjaan harus membuat kita semakin dekat pada Allah. Sibuk boleh, namun jangan sampai hak-hak Allah kita abaikan.

Enggan bersedekah. Siapa pun yang pelit, niscaya hidupnya akan sempit, rezekinya mampet. Sebaliknya, sedekah adalah penolak bala, penyubur kebaikan, serta pelipat ganda rezeki. Sedekah bagaikan sebutir benih menumbuhkan tujuh butir, yang pada tiap-tiap butir itu terurai seratus biji. Artinya, Allah yang Mahakaya akan membalasnya hingga tujuh ratus kali lipat.
(QS al-Baqarah [2]: 261).

Dalam wawancara dengan *Direktur SIT Al Furqon, Drs H. Emil Rosmali, MM, MH,* mengingatkan, setiap jiwa tidak akan mati sampai rezekinya sempurna. Kalau sudah ada jaminan  Allah mengapa harus takut. Mereka yang bekerja teruslah bekerja, jangan khawatir dengan jatah rezekinya. Tentu carilah pekerjaan yang halal.

Dia mengutip  dari Ibnu Mas’ud, Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, //“Sesungguhnya ruh qudus (Jibril), telah membisikkan ke dalam batinku bahwa setiap jiwa tidak akan mati sampai sempurna ajalnya dan dia habiskan semua jatah rezekinya. Karena itu, bertakwalah kepada Allah dan perbaguslah cara dalam mengais rezeki.

Jangan sampai tertundanya rezeki mendorong kalian untuk mencarinya dengan cara bermaksiat kepada Allah. Karena rezeki di sisi Allah tidak akan diperoleh kecuali dengan taat kepada-Nya.” (HR. Musnad Ibnu Abi Syaibah)  .

Dalam hadits di atas diperintahkan untuk mencari rezeki dengan cara yang halal. Janganlah rezeki tadi dicari dengan cara bermaksiat atau dengan menghalalkan segala cara. Kenapa ada yang menempuh cara yang haram dalam mencari rezeki?

Diantaranya karena sudah putus asa dari rezeki Allah.  Dalam mencari pekerjaan berusalah untuk menyeleksi pekerjaan. Carilah yang halal dan jauhilah yang haram. Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah bersabda, //“Wahai umat manusia, bertakwalah engkau kepada Allah, dan tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki, karena sesungguhnya tidaklah seorang hamba akan mati, hingga ia benar-benar telah mengenyam seluruh rezekinya, walaupun terlambat datangnya. Maka bertakwalah kepada Allah, dan tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki. Tempuhlah jalan-jalan mencari rezeki yang halal dan tinggalkan yang haram.” (HR. Ibnu Majah)

Intinya adalah sabar. Seandainya mau bersabar mencari dan datangnya rezeki, tetap Allah beri karena jatah rezeki yang halal sudah ada. (*)

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close