HikmahKeluargaNews

Kebodohan Salah Satu Pintu Setan

Allah Ta’ala, berfirman:

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمٰلًا

“Katakanlah (Muhammad), Apakah perlu Kami beritahukan kepadamu tentang orang yang paling rugi perbuatannya?” (QS. Al-Kahf 18: Ayat 103)

الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا

“(Yaitu) orang yang sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka mengira telah berbuat sebaik-baiknya.” (QS. Al-Kahf 18: Ayat 104)

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ اللهَ تَعَالىَ يُبْغِضُ كُلَّ عَالِمٍ بِالدُّنْيَا جَاهِلٍ بِالْآخِرَة

“Sesungguhnya Allah ta’ala membenci orang yang pandai dalam urusan dunia namun bodoh dalam perkara akherat”. (HR. Al-Hakim)

Pintu masuknya setan itu banyak, namun kebodohan adalah sumber dari pintu-pintu masuknya setan. Dari kebodohan itulah semua pintu terbuka bagi setan untuk menggoda, mengganggu, dan bahkan menjadi teman dalam berbagai kemaksiatan, sementara orang yang bodoh tidak menyadarinya.

Pintu masuk setan yang terbesar adalah al-Jahl (kebodohan). Dari pintu inilah setan menguasai sebagian besar manusia, hingga mengharamkan apa yang dihalalkan Allah Ta’ala dan sebaliknya menghalalkan apa yang diharamkanNya, serta beribadah kepada Allah Ta’ala dengan kebid`ahan-kebid`ahan.

Ibnul Jauzy berkata, “Ketahuilah bahwa pintu terbesar bagi iblis untuk masuk menggoda manusia adalah al-Jahl (kebodohan). Dengan penuh rasa aman dia masuk dari pintu tersebut untuk menggoda orang-orang bodoh. Sedangkan terhadap orang yang berilmu, iblis tidaklah masuk menggodanya kecuali dengan mencuri-curi kesempatan saat lengah. Sesungguhnya iblis telah menipu sebagian besar ahli ibadah karena sedikitnya ilmu mereka. Karena mayoritas mereka sibuk beribadah, namun tidaklah didasari dengan ilmu.”

Abdullah Ibn Mubarak menuturkan, “Kebodohan adalah kematian sebelum kematian yang sebenarnya sebelum kuburan. Jasad mereka telah menjadi kuburan. Orang tanpa ilmu laksana mayat sebelum berbangkit, ia tidak akan dibangkitkan”

Abul Hasan al Mawardi berkata “Barangkali, ada orang yang enggan menuntut ilmu karena usianya sudah lanjut. Atau merasa malu untuk menuntutnya ketika sudah tua karena pada masa mudanya ia telah menyia-nyiakannya”

Akhirnya, ia rela menerima kebodohan sebagai ciri khasnya dan lebih memilih daripada harus belajar dan mengaji. Ini merupakan tipu daya kebodohan dan kemalasan. Sebab, jika ilmu menjadi sebuah keutamaan, orang-orang berusia lanjut seharusnya tetap mencintainya, karena memulai suatu kebaikan merupakan kebaikan. Menjadi tua yang mau belajar jauh lebih baik daripada menjadi tua yang bodoh” (Adabud Dunya wad Din. Hal 26)

Oleh karena itu kedudukan orang berilmu lebih ditakuti setan daripada orang yang ahli ibadah. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

فَقِيهٌ وَاحِدٌ أَشَدُّ عَلَى الشَّيْطَانِ مِنْ أَلْفِ عَابِدٍ

“Satu orang alim ulama lebih berat bagi syetan daripada seribu ahli ibadah.” (HR. al-Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Dari itu semua, kita mengetahui betapa penting membekali diri dengan ilmu syar’i. Karena ia merupakan unsur paling utama untuk menolak setan. Setiap bertambah ilmu yang bermanfaat pada seorang hamba, yang dengan itu menjadikan dirinya takut dan bertakwa kepada Allah Ta’ala, maka akan bertambah keselamatan dirinya dari bisikan dan jeratan setan. Dan hanya Allahlah tempat memohon pertolongan.

Wallahu a’lam

Abu Miqdam
Komunitas Akhlaq Mulia

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close