Apa efek dari perubahan kebiasaan pasangan seksual?

Kecenderungan untuk saling berhubungan seksual adalah salah satu dari banyak faktor risiko untuk infeksi menular seksual. Namun, ini bukan satu-satunya efek negatif dari perilaku ini. Ada sejumlah dampak biologis dan psikologis yang dihadapi oleh orang-orang yang tinggal di sana, dan inilah beberapa di antaranya.

Apa efek dari perubahan kebiasaan pasangan seksual?

Memiliki lebih dari satu pasangan dapat berdampak pada kesehatan fisik dan psikologis Anda, misalnya:
1. Meningkatkan risiko HIV

Risiko penularan HIV lebih besar pada orang yang berhubungan seks dengan lebih dari satu pasangan. Semakin banyak mitra yang Anda miliki, semakin besar kemungkinan salah satu dari mereka telah terinfeksi oleh HIV dan tidak menyadari.

Untuk mengurangi tingkat infeksi HIV, CDC merekomendasikan semua orang untuk berhubungan seks dengan hanya satu pasangan. Tindakan pencegahan juga dapat diambil ketika berhubungan seks, yaitu menggunakan kondom dan melakukan aktivitas seksual yang memiliki risiko penularan yang lebih rendah daripada seks anal atau vaginal.
2. Meningkatkan risiko infeksi menular seksual

Orang yang berganti pasangan sering kali tidak luput dari risiko penularan infeksi menular seksual. CDC memperkirakan bahwa setidaknya 19 juta kasus baru infeksi menular seksual terjadi setiap tahun. Penyakit yang paling umum adalah infeksi jamur gonore, sifilis dan klamidia. Namun, yang paling umum termasuk infeksi human papillomavirus (HPV).

Infeksi menular seksual tidak boleh dianggap sebagai mata karena penyakit ini dapat menyebar ke bagian tubuh yang lain. Infeksi HPV juga diketahui berhubungan erat dengan kanker serviks, mulut dan kerongkongan. Lebih buruk lagi, kebanyakan orang yang telah terinfeksi HPV biasanya tidak menyadarinya sampai gejala penyakit muncul.
3. Aktivasi perilaku berisiko

Sebuah studi jangka panjang dilakukan untuk menentukan hubungan antara kesehatan psikologis, jumlah pasangan, kecenderungan perilaku berisiko dan penyalahgunaan zat adiktif.

Hasilnya, orang yang sering saling kenal, cenderung lebih mudah bergantung pada zat adiktif. Risiko juga meningkat dengan meningkatnya jumlah pasangan seksual.

Jumlah pasangan seksual tidak secara langsung memicu perilaku berisiko, tetapi keduanya terkait. Jenis hubungan ini berpotensi menimbulkan ketidakpuasan bagi orang yang menjalaninya.

Akhirnya, mereka mengarah pada perilaku berisiko seperti konsumsi alkohol dan obat-obatan untuk mengalihkan perhatian Anda. Lebih lanjut, jika pergaulan bebas dikombinasikan dengan perilaku berisiko lainnya seperti merokok, minum alkohol, menggunakan obat-obatan, kurang tidur dan pola makan yang buruk, itu dapat meningkatkan risiko beberapa penyakit kronis, salah satunya adalah penyakit jantung.
4. Aktifkan depresi dan kekerasan dalam hubungan

Kecenderungan untuk berganti pasangan berpotensi membuat Anda melakukan hal-hal yang lebih berisiko dan berbahaya. Siklus ini akan berlanjut dan akan menghasilkan inferioritas, ketidakharmonisan dalam hubungan, bahkan depresi. Memiliki lebih dari satu pasangan juga akan membuat Anda sulit untuk mempertahankan hubungan yang Anda alami.

Sejumlah penelitian juga sepakat bahwa orang yang menjalani hubungan jangka panjang yang sehat dengan pasangan dapat menikmati hubungan yang lebih baik. Risiko kekerasan dalam hubungan lebih rendah daripada mereka yang menghadapi kebalikannya.

Apa pun alasannya, kebiasaan berganti pasangan adalah perilaku berisiko yang harus dihindari. Perilaku ini tidak hanya berbahaya secara emosional, tetapi juga memiliki potensi untuk menyebabkan serangkaian masalah kesehatan yang berbahaya. Jika Anda telah terlibat dalam situasi yang memungkinkan Anda memiliki lebih dari satu pasangan, kami berusaha lebih bijak dengan tetap loyal kepada satu pasangan.

Baca juga:

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *